Tahun 2017 sudah berakhir berganti dengan tahun 2018. Well, tulisan tenttang piknik di Purworejo ini menjadi sedikit lambat atau bahasa zaman now-nya “latepost”. Tapi biarlah saya sedikit menganut pepatah “lebih baik terlambat daripada tidak”. Bagaimana mungkin engga menulis cerita ini sedangkan, buat saya, cerita yang akan saya tulis ini merupakan kenangan yang sangat berkesan.
Alkisah bermula dari sebuah komentar saya di halaman instagram teman SMA, saya lupa milik siapa, mungkin milik Mbak Dewi, atau mas Amien Budiarto. Konten foto yang saya komentari adalah group selfie (wefie) teman-teman semasa SMA yang sedang piknik di Pirworejo, menikmati wisata di daerah Bruno, Kabupaten Purworejo. Sontak saya merengek dalam hati untuk bisa mengunjungi tempat mereka ber-wefie ria itu. Berdasarkan informasi, dan alibi dari tokoh-tokoh yang saya kumpulkan, cerita punya cerita, seorang teman SMA yang tak lain dan tak bukan adalah Mas Amien Budiarto adalah tour guide mereka. Dengan reflek yang cukup bagus, jemari saya menyapu layar smart phone dan colek-colek instagram mencari akun instagram Mas Amien. Catcha! Tampak sebuah akun instagram dengan nama @budiartoamien.

Merencanakan Berlibur di Purworejo
Sepertinya kejadian ini sudah tertulis rapih di Lauhul Mahfudz. Pas saya merencanakan untuk berlibur akhir tahun dengan meng-explore beberapa tempat di Purworejo, saya ketemu pemandu yang tepat. Saya menghubungi Mas Amien melalui direct message di instagram dan gayung bersambut. Saya menanyakan kapan waktu luangnya untuk mudik ke Purworejo dan mengantarkan saya ke tempat tujuan yang saya maksud. Sepakatlah kita dengan perkiraan waktu piknik Purworejo di libur akhir tahun 2017. Mas Amien juga meminta saya untuk mengajak teman lain yang mungkin punya waktu dan mau untuk ikut serta di perjalanan kami.
Tak lama kemudian saya membagikan informasi rencana open trip kami di whatsapp group alumni sekelas SMA, hanya ada respon tipis. Lalu saya mengajak Mbak Desti ( instagram : @destiara_r ) yang juga teman SMA dan SMP, dan dia mau. Jadilah tiga orang terkonfirmasi akan jalan bareng. Lalu Mas Amien mengajak dua orang teman, dan Mbak Desti mengajak satu orang lagi, total tujuh orang dalam perjalanan kami (ditambah istri dan anak teman)

Kenapa merencanakan berlibur di Purworejo?
Pertanyaan ini memunculkan dua kata kunci bagi saya, yakni “berlibur” dan “Purworejo”. Berlibur bukan hanya mengacu pada kata dasar “libur” yang sekedar engga masuk kerja, tetapi juga mengacu pada aktivitas piknik. Sedangkan Purworejo mengacu pada sebuah kota tempat di mana saya lahir, (agak) membesar, dan belajar hingga bangku SMA.
Berlibur di tempat-tempat yang sudah terkenal, seperti, Bali, Lombok, Singapore, Malaysia, Jepang, Dubai, dan semacamnya kurang menarik bagi saya karena berlibur di tempat-tempat tersebut terlalu menarik kantong saya (baca: ngga punya duit banyak). Namun demikian bukan berarti berlibur di Purworejo adalah liburan yang murahan. Beberapa lokasi di Purworejo bisa setali tiga uang dengan tempat wisata di Bali atau yang lainnya. Lagipula, dengan berlibur di Purworejo, saya bisa berlibur sekaligus mudik. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Hal berikutnya yang membuat saya memilih berlibur di Purworejo adalah, saya ingin mencoba ikut memperkenalkan wisata di Purworejo kepada manusia di seisi dunia dengan sedikit ulasan yang semoga masih enak dibaca dengan diksi seadanya. Biasanya saya menulis ulasan untuk tempat-tempat wisata yang saya kunjungi di situs Tripadvisor. Namun baru satu tempat wisata di Purworejo yang saya ulas di Tripadvisor. Ulasan itu juga saya bagikan ke Mbak Arinta untuk dijadikan referensi penulisan blog-nya. Tempat tersebut adalah Curug Siklotok di Desa Kaligono, Kaligesing, Purworejo.

Unboxing Kado Akhir Tahun
Rabu, 6 Desember 2017
Mas Amien mengkonfirmasi kesanggupan tanggal piknik, yaitu di tanggal 24 dan 25 Desember. Kami sepakati waktu perjalanan di 25 Desember, titik kumpul di alun-alun Kutoarjo jam 7 pagi.
Minggu, 24 Desember 2017
Cuaca cerah, Mas Amin meminta konfirmasi rencana open trip dan member yang akan ikut. Waktu berkumpul diubah menjadi jam 8 pagi. Selain itu ada informasi dari pihak pengelola wisata bahwa aka nada persiapan merti desa, dan kami diminta untuk sekedar mampir untuk menyaksikan persiapan tersebut.
The Day
Pagi itu jam 7, Saya, Desti, dan Erna sudah berada di depan Pendopo utara alun-alun Kutoarjo. Sambil menunggu Mas Amien dan teman-teman yang lain datang, kami berfoto tipis-tipis di sekitar pendopo. Tak lama kemudian Mas Amien dan teman-teman yang lain datang. Kami otewe.

Satu jam perjalanan, kami tiba di depan pintu gerbang Curug Gunung Putri disambut oleh Mas Arif, salah satu pengelola tempat wisata. Namun kami tidak langsung masuk ke area Curug Gunung Putri. Kami melanjutkan perjalanan ke atas ke kawasan Puncak Khayangan Sigendol.
Puncak Sigendol
Untuk menuju lokasi Puncak Sigendol sedikit lebih memerlukan effort. Jalan menanjak yang cukup curam dan panjang menguji kemampuan kendaraan kami dan juga kemampuan berkendara. Namun demikian, jalanan menuju lokasi sudah bagus dengan lapisan concrete. Melihat infrastruktur ini, saya melihat tempat ini akan menjadi salah satu destinasi andalan piknik Purworejo.

Sesampainya di Puncak Khayangan, kami dipersilahkan masuk area wisata. Puncak Khayangan Sigendol terletak di di Desa Giyombong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Terletak di ketinggian sekitar 1000 mdpl, dari tempatini kita dapat melihat pemandangan indah menghampar di dataran yang lebih rendah. Area ini telah didesain untuk memenuhi kebutuhan orang-orang zaman now, yaitu dilengkapi dengan spot-spot yang instagramable. Puncak Khayangan, Prau Jomblang Anom, Omah Gadang, Sendang Padusan Widadari, dan Puncak Memeyan, begitulah kira-kira spot-spot instagramable di sana diberi nama. Pada saat kami datang, masih ada dua spot lagi yang belum jadi.
Curug Gunung Putri dan Photography Sharing

Selesai di Puncak Sigendol, kami kembali ke area Curug Gunung Putri. Curug Gunung Putri terletak di Desa Cepedak, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Kami dipersilahkan masuk dan menuju ke lokasi Curug Gunung Putri. Banyak wisatawan lokal sudah berada di sana. Tampak air terjun dengan karakter yang relatif tenang merambat di sisi tebing. Ada legenda yang mengiringi Curug Gunung Putri ini. Konon, barang siapa yang membasuh muka atau mandi di air terjun ini maka akan didekatkan dengan jodohnya. So, buat yang masih jomblo, ini adalah tempat piknik yang tepat…hehehe…

Berjalan ke sebelah kanan dari tempat saya datang, saya melihat sekumpulan pohon pinus dengan genangan air di bawahnya dan menyita sedikit perhatian saya untuk sekedar membuka rana kamera.

Menghampiri Mas Arif dan Mas Amien yang lagi ngobrol, saya dapet surprise. Saya diminta melakukan sharing mengenai fotografi kepada beberapa remaja Desa Cepedak dan pengelola pokdarwis Curug Gunung Putri. Wew.. ngga ada persiapan sama sekali untuk ini. Alhasil saya harus berkeliling area untuk membuat beberapa contoh foto. Dengan kemampuan seadanya saya mengisi sesi sharing bersama Mas Dani. Kami bagi peserta dan “mentor” menjadi dua tim. Materi yang kami sampaikan mengenai komposisi foto dan pengaturan kamera. Semoga di tulisan saya berikutnya dapat berbagi mengenai materi ini. Meskipun saya bukan fotografer professional, tapi apa salahnya membagikan apa yang sudah saya pelajari.
Makan Siang Khas Bruno
Selesai sesi Photography Sharing kami diajak menuju rumah salah satu warga, disambut dengan segala keramahan, dan dijamu makan siang. Ini surprise kedua. Jamuan makan siang dengan menu khas daerah Bruno, jangan welut (sayur belut), tempe bacem, dan ditutup dengan kepok (ketan yang dibentuk bola dan disajikan dengan serundeng).
Selesai makan siang, kami beristirahat sejenak di sana.
Pertunjukan Gejog Lesung
Usai istrirahat, bermaksud pamit, kami dicegah untuk pulang. Rupanya Mas Arif sudah berkoordinasi dengan pengurus sanggar gejog lesung Desa Gunung Condong, dan menginformasikan bahwa kami akan ke datang sana.
Benar adanya, begitu rombongan kami tiba di tempat sanggar, kami langsung disambut dengan alunan lagu diiringi musik yang berupa lesung, satu bedug kecil, dan gong kecil. Empat perempuan memainkan lesung, seorang memukul gong, seorang memukul bedug, dua penari dan dua pelantun lagu. Lagu yang dibawakan adalah tembang Jawa yang tentunya berbahasa Jawa.

Setengah jam lebih kami menikmati alunan musik lesung ini. Gejog lesung, atau lazim disebut “lesungan” oleh warga Bruno ini merupakan kebudayaan lama yang mati suri dan kembali dihidupkan. Gejog lesung ini adalah tradisi di kalangan petani. Lesung dengan alu sebenarnya merupakan alat untuk memisahkan bulir padi yang masih pocongan (terikat) dari tangkainya. Kini, gejog lesung ini ditampilkan di event-event tertentu saja, seperti hajatan atau menyambut tamu kehormatan.

Selesai menikmati gejog lesung, kami sempat sedikit mendengarkan cerita sejarah gejog lesung dan menari bersama penari gejog lesung. Kemudian kami dijamu minum teh sambil ngobrol santai.
Sore menjelang, kami harus pulang. Kami pun berpamitan, dan dilepas dengan segala keramahan warganya. Berasa jadi bule sehari. Semoga bisa kembali ke Bruno lagi karena masih ada lokasi yang perlu di-explore. Semoga bisa piknik di Purworejo lagi.
~Taufan~
Seru banget, jadi nyesel karena nggak ikutan. Huhuhu… Mana sambutannya mewah banget lagi..
Video kalian yang lagi pada ikutan nari ngga ada nih? 😂😂
Betewe, terimakasih lagi untuk foto curugnya terdahulu yaa.. 😁😁
Kita tunggu kesempatan berikutnya, semoga mas Amin masih sempet, soalnya lagi jadi suami siaga nih..haha…
Video semoga bisa nyusul deh, lagi dimintain ke mas Amin
Yang foto curug, sama-sama, jadi ada gunanya aku motret, hehe…
Murah tapi bukan murahan, hehehe
Bersyukur sekali bisa menikmati alam yang masih asri, kebudayaan yang masih asli,
Dan keramahan warga yang hqq
Bagi saya sie benar-benar mindblowing setiap perjalanan menyusuri sudut Purworejo, pas SMA definisi Purworejo itu cuma Kemiri-Kutoarjo-Purworejo, dan sekarang tahu bahwa Purworejo menyimpan pesonanya yang khas. Dan ke khasan itu yanh harus kita abadikan minimal melalui jepretan kamera, karena belum tentu 50 tahun lagin akan sama dengan sekarang seiring dengan perkembangan zaman.
Perjalanan kemarij baru satu keping dari sekumpulan puzzle yang dirangkai jadi Purworejo.
Ditunggu explore selanjutnya.
Insya Allah siap Mas Amin.
Trus jangan lupa jaga kondisi kalau mau guide kita-kita..hehe…
Semoga lancar project suami siaganya.
Aahhhh jadi mupeng jalan-jalan lagi nih ke daerah Bruno dan sekitarnya. Alamnya adem dan nggak kalah sama tempat wisata kekinian di kota lain. Semoga next time ada semakin banyak orang yang datang ke daerah-daerah wisata ini dan memberikan review positifnya dalam bentuk tulisan ya.
Wah senengnya disambangi senior blogger, hehe…
Iya Mbak, masih banyak yang belum sempat dikunjungi dan direview supaya Purworejo semakin menggemakan iramanya.
Koyone seru iki. Mugo2 iso melu. Kapan2
Joss… bisa diatur